Monday, November 2, 2015

The Explorer

image from: www.twitter.com
The explorer returned to his people, who were eager to know about the Amazon. But how could he ever put into words the feelings that flooded his heart when he saw exotic flowers and heard the night-sounds of the forests; when he sensed the danger of wild beasts or paddled his canoe over treacherous rapids?

He said, “Go and find out for yourselves.” To guide them he drew a map of the river.

They pounced upon the map. They framed it in their Town Hall. They made copies of it for themselves. And all who had a copy considered themselves experts on the river, for did they not know its every turn and bend, how broad it was, how deep, where the rapids were and where the falls ?

It is said that Buddha obdurately refused to be drawn into talking of God.
He was obviously familiar with the dangers of drawing maps for armchair explorers.

(Anthony de Mello SJ, "The Song Of The Bird")



Penjelajah


Penjelajah itu pulang ke kampung halamannya. Penduduk ingin tahu segala sesuatu tentang sungai Amazone. Tetapi bagaimana mungkin mengungkapkan dalam kata-kata perasaan yang memenuhi hatinya, ketika ia melihat bunga-bunga begitu indah memukau dan mendengar seribu satu suara penghuni rimba di waktu malam? Bagaimana menjelaskan perasaan hatinya, ketika menghadapi binatang buas atau ketika mendayung perahu kecilnya melewati arus sungai yang sangat berbahaya?

Ia berkata, "Pergi dan temukanlah sendiri! Tidak ada yang dapat menggantikan pertaruhan nyawa dan pengalaman pribadi."

Namun sebagai pedoman bagi mereka, ia menggambarkan peta sungai Amazone.

Mereka berpegang pada peta itu. Peta itu dibingkai dan diletakkan di kantor kotapraja. Mereka masing-masing menyalin peta itu. Dan setiap orang yang mempunyai peta, menganggap dirinya seorang ahli tentang sungai Amazone. Sebab, bukankah ia tahu setiap kelokan dan pusaran sungai, berapa lebar dan dalamnya, di mana air mengalir deras dan di mana terdapat air terjun?

Penjelajah itu selama hidupnya menyesalkan peta yang telah dibuatnya. Mungkin lebih baik jika dulu dia tidak menggambarkan apa-apa.

Katanya Buddha tidak pernah mau dipancing untuk berbicara tentang Tuhan.
Rupanya ia menyadari bahaya-bahay menggambar peta bagi para cendikiawan di masa mendatang.

(Anthony de Mello SJ, "Burung Berkicau")

No comments:

Post a Comment